Mengenal Taufik, Guru SMA 1 Kota Solok yang Dipanggil Jadi Juri PON Papua

Taufik (kanan) saat tampil bersama tuo Silek dari Malaysia ketika pelantikan pengurus IPSI Sumbar
Taufik (kanan) saat tampil bersama tuo Silek dari Malaysia ketika pelantikan pengurus IPSI Sumbar (Ist)

Solok Kota, Klikpositif - Taufik, begitu panggilannya. Cukup pendek untuk disebut nama panjang. Ramah dan sangat mudah akrab, begitu kesan pertama yang hadir saat berbincang di sebuah siang di Kota Solok .

Telah beberapa hari berencana, namun baru kali ini bertemu di sebuah kedai yang tak seberapa jauh dari SMA Negri 1 (Smansa). Di sekolah kenamaan Kota Solok ini, Taufik mengajar pendidikan olahraga sejak 2003 silam.

baca juga: Pemko Solok Fasilitasi Bantuan Studi Kuliah di Timur Tengah

Beberapa waktu belakangan, nama bapak tiga anak ini cukup terkenal, setelah dirinya dipanggil PB IPSI untuk menjadi juri cabang olahraga Silat dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-XX Papua yang digelar Oktober 2021 ini.

Sedari awal, Silat sudah menjadi identitas diri bagi Taufik sejak menimba ilmu di SMP N 15 Padang, Kota dimana ia menghirup udara pertama kali, 25 Maret 1971 tepatnya. Ibukota dari Provinsi Sumatra Barat.

baca juga: Gebyar Vaksin, Cara Kota Solok Wujudkan Herd Immunity

Adalah perguruan Camar Putih, tempatnya pertama kali belajar melangkahkan kaki, membuat kuda-kuda, hingga beragam jurus. Motivasi kala itu, tidak lebih untuk bekal membela diri. Anak muda Minang harus pandai bersilat.

"Pertama kali belajar Silat itu sekitar tahun 1989, saat itu masih SMP, guru saya pak Idris Can," kenang Taufik sembari membuka lembaran ingatan masa lalunya.

baca juga: Tingkatkan Perekenomian Masyarakat, Pemko Solok Teken MoU Dengan Pegadaian

Di perguruan ini, Taufik ditempa. Hal pertama yang diajarkan di perguruan Camar Putih, yakni soal budi pekerti dan tata krama, bukan soal gerakan silat. Hampir semua perguruan silat di Minang mengajarkan hal ini.

Selain Silat, Taufik juga menyimpan bakat di sepakbola. Ditengah belajar beladiri, Dirinya juga aktif bermain bola.

baca juga: Ernawati, Kader Posyandu Berprestasi Kota Solok Dinilai Tim Provinsi

Bakat dan kegigihan mengantarkannya masuk tim Pratama Semen Padang, medio 1991. Saat itu, Kabau Sirah (julukan Semen Padang) dalam masa jayanya.

"Saya di tim Pratama Semen Padang sekitar tiga tahun, sama-sama main dengan Yeyen Tumena Chaniago yang pernah membela timnas Indonesia, waktu itu saya kiper dan dia bek,"kenangnya.

Beranjak dari tim Pratama Semen Padang, Taufik berhasil menembus tim Galatama Semen Padang, pintu masuk untuk masuk dalam skuad inti tim kebanggaan urang awak itu.

Diwaktu bersamaan, Taufik juga menempuh pendidikan S1 di FPOK IKIP (sekarang UNP), kesibukan kuliah dan latihan di Galatama membuat Taufik harus memilih. Tidak mungkin menjalankan keduanya sekaligus.

"Jadi waktu di Galatama Semen Padang, latihan 4 kali seminggu sementara kuliah juga sibuk, dan saya memilih untuk berhenti dan fokus kuliah," bebernya sambil tersenyum.

Seakan sudah berjodoh, saat di kampus, kehidupan Taufik juga tak jauh-jauh dari Silat dan Sepak Bola. Kebetulan ada unit kegiatan silat dan bola di kampus. Dua hal yang menjadi hobi bagi Taufik.

Tanpa pikir panjang, keduanya dijalani secara berbarengan, dengan membagi waktu untuk belajar. Seperti cinta segi tiga, latihan sepakbola Sore sebagai penjaga gawang, dan latihan silat malam hari.

Ketika masih kuliah, kebetulan ada kejuaraan terbuka Silat di Kota Padang, Pat Bambu namanya. Taufik dipercaya perguruan turun di kelas D (60-65 Kilogram. Debutnya di kejuaraan resmi silat berbuah manis, medali emas langsung disabet. Prestasi itu tak diketahui kawan sesama tim sepakbola.

-Membela Kampung Halaman Ayah-

Tiga bulan setelah meraih emas di kejuaraan terbuka Silat Sumbar, Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Pariaman dihelat. Taufik tak ingat lagi tahunnya. Sejumlah rekan di tim sepakbola IKIP ikut seleksi tim Kota Padang. Tapi, Taufik absen.

Setelah menjadi juara Silat, Taufik dilirik Kabupaten Pesisir Selatan untuk mewakili daerah yang tak lain merupakan tanah kelahiran ayahnya pada Porda tahun itu.

Di Gelaran Porda, Taufik bertemu dengan sejumlah rekan sesama pemain bola di UNP. Taufik yang memakai seragam Pesisir Selatan dikira juga bakal bermain di tim sepakbola bola.

"Awas ang Beko, basuo Padang Jo Pasisie, kami karajoan (Awas kau nanti, saat bertanding Padang dan Pesisir Selatan, kami kerjain," kelakar rekannya kala itu.

Penasaran, rekan Taufik kemudian merebut Kokarde yang tergantung di dadanya. Saat melihatnya, rekan-rekan Taufik kaget, tertulis atlet Silat.

"Sajak bilo lo ang pandai basilek, Ndak pernah nampak dek kami (sejak kapan pula kau pandai bersilat, tidak pernah kelihatan)," tutur rekannya yang cukup kaget waktu itu.

Hingga akhirnya, Taufik berlaga di partai final kelas D, hampir seluruh rekan sesama pemain bola menyaksikan langsung kelihaian Taufik bersilat. Taufik juara dan meraih medali emas.

Kenangan itu terpatri dalam ingatan Taufik hingga kini. Dua tahun setelahnya, di Porda Pasaman Barat, Taufik kembali meraih emas.

Singkat cerita, karirnya di Silat sampai di Kejuaraan Wilayah Jambi dan Kejurnas Jakarta. Saat itu dia hanya sampai delapan besar karena turun ke kelas C. Setelah itu, Taufik istirahat sebagai atlet.

"Untuk PON memang belum kesampaian cita-cita, memang usia waktu itu tidak lagi memungkinkan, main bola masih aktif waktu itu, bahkan mewakili Sumbar di Kejurnas tingkat Mahasiswa di Universitas Indonesia," katanya.

-Hijrah ke Kampung Istri-

Jalan hidup tidak ada seorangpun yang tahu. Setamat kuliah, sekitar tahun 1999, Taufik kemudian bertemu jodoh, juniornya di FPOK IKIP, Elvi Irawati yang tinggal di Kota Solok .

Sekitar tahun 2003, Taufik pindah ke kampung halaman istrinya, setelah sebelumnya bekerja sebagai honorer di SMP IT Askia Padang dan MAN Lubuk Alung.

Taufik kemudian menjadi guru honorer di SMA 1 Kota Solok . Sebagai guru olahraga, waktu itu kepala sekolahnya Syahrul Efendi. Di sekolah ini dulunya, istri Taufik menamatkan jenjang Sekolah Menengah Atas.

Jadi guru honorer, kehidupan Ayah tiga anak ini kembali tak bisa jauh dari silat dan sepakbola. Kala itu, berbekal prestasi dan sertifikat yang disodorkannya saat melamar, Taufik diterima jadi guru olahraga dan diminta untuk menukangi ekskul silat dan Sepakbola.

"Sejak saat itu saya mengajar di SMA 1 Kota Solok dan mulai melatih silat, murid mungkin sudah ada sekitar 300 orang," cetusnya.

Sentuhan tangan dingin Taufik berhasil mengangkat nama sekolah melalui berbagai kejuaraan Silat dan Sepakbola. Bahkan SMA 1 pernah mewakili Sumbar di Pocari Cup tahun 2015.

Hanya tiga tahun honor, kemudian Taufik diangkat menjadi Pegawai Negri Sipil. Kini dirinya dipercaya menjadi wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.

-Juri Nasional dan PON Papua-

Cita-cita ayah dari Farrel, Felicia dan Fais yang sempat terpendam, turun di ajang Pekan Olahraga Nasional akhirnya terwujud 20 tahun kemudian di PON Papua 2021. Memang bukan sebagai atlet, tapi pengawal pertandingan alias juri/ wasit.

Taufik menjadi salah satu juri bersertifikat nasional yang turut dipanggil PB IPSI. Kiprah sebagai wasit memang sudah dilakoninya sejak lulus pada tahun 2001. Bahkan, tugas perdana saat jadi wasit ketika Porda Pessel tahun 2002.

Setelah itu, berbagai kejuaraan daerah hingga nasional pernah dikawalnya. Mulai dari Kejurda, Porprov, Kejurnas hingga Pra PON.

"Tahun 2014 dipercaya menjadi ketua pertandingan di Porprov Dharmasraya. Sudah pakai baju hitam, kalau wasit biasa pakai baju putih," tuturnya.

Ikut dipanggil dalam PON Papua menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Taufik. Memang, pengalaman sudah sangat layak untuk turun di pertandingan sekelas PON, Taufik memang dikenal sebagai wasit yang tegas dan adil.

"Ini perdana turun di PON, kalau pra PON dan kejurnas sudah pernah. Mudah-mudahan berjalan dengan baik," harapnya.

Selain aktif menjadi juri, Taufik juga kerap menjadi narasumber dalam berbagai Penataran wasit dan juri, hampir di seluruh daerah di Sumatra Barat sudah dilakukannya.

Harapannya, Silat akan terus hidup dan berkembang ditengah masyarakat, terutama pada generasi muda Minang, baik Silat Tradisi maupun prestasi, karena di Silat, diajarkan menjadi manusia seutuhnya.

Menjunjung ilmu padi, semakin berisi semakin menunduk. Sombong, angkuh dan takabur bukan pakaian dari Pesilat sejati.

Tentunya, prestasi Taufik menjadi kebanggaan bagi Kota Solok , sekaligus harapan akan terus berkembangnya olahraga Silat di masa mendatang.

Editor: Syafriadi