Mengintip Sejarah TdS, Bukittinggi Dua Kali Jadi Tuan Rumah Pembuka

Pembukaan TdS di Bukittinggi
Pembukaan TdS di Bukittinggi (KLIKPOSITIF/Ramadhani)

BUKITTINGGI , KLIKPOSITIF -- Bukittinggi menjadi kota kedua setelah Padang yang paling sering dipilih sebagai kota pembuka ajang balap sepeda internasional Tour de Singkarak (TdS). Selama sepuluh tahun penyelenggaran, tahun ini menjadi yang kedua kalinya TdS dimulai dari Bukittinggi .

Sebelumnya Bukittinggi dipercaya pertama kali sebagai tuan rumah pembukaan TdS pada tahun 2013. Waktu itu garis start dimulai dari Taman Jam Gadang di kawasan Pasar Atas. Ratusan orang warga Bukittinggi menyaksikan untuk pertama kalinya bagaimana para pembalap dunia memulai balapan.

baca juga: Ini Kabar Baik Terkait Penanganan COVID-19 di Agam

Menariknya pada etape 1 itu pembalap asal Iran Hossein Askari menyapu bersih semua kategori. Dia berhasil memenangkan jersey kuning, hijau, dan polkadot, itu pertama kalinya terjadi dalam balapan TdS.

Lima tahun berselang, Bukittinggi kembali dipercaya sebagai tuan rumah pertama TdS 2018. Kepala Dinas Pariwisata Sumbar Oni Yulfian mengatakan hal ini merupakan kesepakatan semua pihak yang terlibat. Menurutnya Bukittinggi pilihan tepat, karena daya tarik wisatanya. Ketersedian beragam fasilitas yang bisa mendukung meriahnya TdS juga menjadi faktor lain.

baca juga: Idul Fitri di Bukittinggi Tanpa Takbir Keliling, Salat Ied dan Open House

“Ini kesepakatan dari semua kabupaten dan kota,” ujarnya. Warga Bukittinggi juga membuktikan pilihan itu tidak salah. Meski diguyur hujan sejak sore, ratusan warga tetap antusias menyaksikan seremonial pembukaan TdS yang digelar di Lapangan Kantin Sabtu malam.

“Kalau tidak hujan pasti akan lebih ramai lagi,” ujar Fajri warga Bukittinggi .

baca juga: Kabar Baik, Pasien Sembuh COVID-19 di Bukittinggi Terus Bertambah

JIka melihat catatan TdS, baru Kota Padang dan Bukittinggi yang menjadi tuan rumah pembukaan lebih dari sekali. Jika Bukittinggi baru dua kali, Padang menjadi yang paling sering. Selama tiga tahun secara beruntun Kota Padang menjadi garis start pertama TdS. TdS perdana digelar pada 2009 dengan rute sepanjang 4.5 kilometer yang membentang mengitari Kota Padang. Pada helatan pertama itu balapan TdS dijalankan dengan format Team Time Trial (TTT) di mana pemenang adalah pembalap tercepat.

Pada 2010 TdS masih digelar di Padang dengan format TTT, Hanya saja rute diperpanjang menjadi 15.8 kilometer dengan tetap mengitari Kota Padang. Pada 2011 sistem balap berubah menjadi flat dengan jarak ditambah menjadi 85.4 kilometer namun jalurnya tetap mengitari Kota Padang.

baca juga: Terkait Pasien Birugo Bukittinggi, 87 Orang Dites Swab

Setelah itu race pembuka dipindah ke Sawahlunto dengan jarak balap sepanjang 76 kilometer dengan tipe lintasan hills. Pada 2013 saat Bukittinggi pertama kali menjadi tuan rumah etape 1, rute TdS diperpanjang hingga 105 kilometer. Etape ini menjadi yang pertam kali di mana lokasi start dan finis terletak di kabupaten/kota yang berbeda.

Sejak Saat itu etape 1 TdS setiap tahunnya terus berpindah. Pada 2014 etape 1 dimulai di Padang Pariaman menuju Pariaman dengan jarak sejauh 98,5 kilometer. Pada 2015 Pessel menjadi lokasi start dan finis Pariaman. Etape 1 ini menempuh jarak sejauh 163 kilometer. 2016 garis start dimulau di Solok menuju Payakumbuh sejauh 97 dan tahun lalu Batusangkar menjadi tuan rumah. Sedangkan garis finisnya membentang sejauh 109.3 kilometer di Kota Padang.

[Ramadhani]

Penulis: Iwan R